Kamu sudah punya produk bagus, harga kompetitif, foto menarik — tapi pesanan tetap sepi. Atau lebih buruk: pembeli sudah datang, tapi tidak pernah balik lagi.
Salah satu penyebab paling sering yang jarang disadari? Pengiriman yang buruk.
Bukan soal mahal atau murahnya ongkos kirim. Tapi soal pengalaman — dari momen “Siap Pickup” sampai paket tiba di tangan pelanggan. Di era di mana Tokopedia, Shopee, dan marketplace besar sudah menetapkan standar pengiriman cepat, pelanggan tidak punya toleransi besar untuk yang lamban.
Ini 5 kesalahan pengiriman yang masih sering dilakukan online shop, dan bagaimana cara menghindarinya.
1. Tidak Langsung Proses Pesanan Setelah Pembayaran Diterima
Pelanggan sudah bayar. Dia menunggu. Dan kamu baru proses 2 hari kemudian karena lupa cek dashboard, sibuk, atau harus antre dulu ke kantor kurir.
Ini menyakitkan bagi pembeli — dan sangat merusak reputasi toko.
Standar yang harus kamu penuhi: proses pesanan maksimal dalam 12 jam setelah pembayaran diterima. Idealnya dalam 1–2 jam.
Cara memperbaikinya:gunakan sistem yang memberi notifikasi instan begitu pesanan masuk dan pembayaran dikonfirmasi. Dengan Lapaku, pesanan yang sudah dibayar langsung muncul di dashboard dengan status jelas, dan kamu tinggal klik “Siap Pickup” — tidak perlu buka-tutup banyak aplikasi.
💡 Lapaku bisa bantu ini
Fitur 1-klik Siap Pickup Lapaku memotong waktu proses dari jam menjadi menit. Kurir langsung dijadwalkan tanpa kamu perlu telepon atau datang ke kantor.
Coba Gratis →2. Pilihan Kurir Terlalu Terbatas
Banyak toko hanya menyediakan 1–2 pilihan kurir. Padahal setiap pelanggan punya preferensi berbeda — ada yang prioritas kecepatan, ada yang mau yang termurah, ada yang mau yang bisa COD.
Kalau pilihannya tidak ada yang cocok, pelanggan pergi ke toko lain yang lebih fleksibel.
Yang sebaiknya kamu sediakan:
- Reguler (2–3 hari): JNE Reguler, SiCepat Reguler
- Same-day / instant: GoSend Same Day, GrabExpress
- Ekonomi: J&T Economy, Pos Indonesia
Cara memperbaikinya: integrasikan tokomu dengan platform yang sudah terhubung ke banyak kurir sekaligus. Kamu tidak perlu daftar satu-satu — cukup satu dashboard yang sudah terhubung ke semuanya.
3. Update Resi ke Pelanggan Terlambat atau Lupa
Ini mungkin kesalahan paling umum dan paling sering menciptakan konflik.
Pelanggan sudah bayar, paket belum kelihatan, tidak ada update — mereka mulai panik dan DM toko. Kamu kewalahan jawab satu-satu, dan beberapa tidak sempat dibalas. Hasilnya: komplain, review bintang 1, dan chargeback.
Yang seharusnya terjadi: begitu kurir pickup dan resi terbit, pelanggan langsung dapat notifikasi otomatis berisi nomor resi dan link tracking — tanpa kamu harus kirim manual.
Cara memperbaikinya: gunakan sistem yang otomatis mengirimkan update ke pelanggan di setiap tahap: pickup, dalam pengiriman, dan terima. Lapaku melakukan ini secara otomatis ke WhatsApp/SMS pelanggan tanpa kamu perlu intervene.
💡 Lapaku bisa bantu ini
Tracking otomatis Lapaku dikirim langsung ke pelanggan begitu resi terbit. Tidak ada lagi "Kak, sudah dikirim belum?" yang masuk terus.
Coba Gratis →4. Packing yang Tidak Aman, Lalu Menyalahkan Kurir
Barang rusak di jalan — siapa yang salah? Memang kurir tidak selalu hati-hati. Tapi sebagai penjual, kamu punya tanggung jawab untuk memastikan packing cukup protektif untuk kondisi pengiriman normal.
Kalau kamu jual barang pecah belah dan hanya dibungkus bubble wrap tipis satu lapis, itu bukan salah kurir ketika barang retak.
Tips packing minimal:
- Bubble wrap minimal 2 lapis untuk barang rapuh
- Kardus yang ukurannya pas — bukan terlalu longgar
- Isi rongga dengan kertas krep atau potongan kardus
- Taping semua sisi dengan lakban coklat yang kuat
- Cantumkan label “FRAGILE” bila perlu
Packing yang baik juga meningkatkan kesan pelanggan saat unboxing — dan mendorong mereka posting di media sosial.
5. Tidak Menyimpan Resi dengan Rapi
Resi ditulis di kertas. Atau di-screenshot di galeri HP yang sudah penuh. Atau di-note di aplikasi yang berbeda-beda.
Lalu pelanggan komplain, dan kamu harus scroll ratusan foto untuk cari resi yang benar.
Ini bukan cuma tidak efisien — ini bisa berujung pada dispute yang tidak bisa kamu buktikan kalau paket sudah dikirim.
Cara memperbaikinya: simpan semua resi di satu tempat yang terstruktur, bisa dicari, dan bisa difilter per kurir atau per tanggal. Lapaku menyimpan resi secara otomatis di setiap detail pesanan — kamu tinggal cari nama pembeli atau nomor pesanan, resinya langsung muncul.
💡 Lapaku bisa bantu ini
Semua resi tersimpan otomatis di dashboard Lapaku, terorganisir per pesanan. Tidak ada lagi resi yang hilang atau harus cari manual.
Coba Gratis →Penutup: Pengiriman Bukan Akhir, Itu Bagian dari Produkmu
Pelanggan tidak cuma membeli produkmu. Mereka membeli seluruh pengalamannya — termasuk seberapa cepat diproses, seberapa informatif updatenya, dan seberapa aman paket tiba.
Toko yang menguasai pengalaman pengiriman akan selalu punya pelanggan yang balik lagi.
Kalau kamu masih mengerjakan semua ini secara manual — proses pesanan, booking kurir, update resi, simpan tracking — itu bukan kerja keras. Itu kerja yang tidak perlu.
Lapaku mengotomasi semua itu dalam satu platform, dengan 1 klik.
Punya pertanyaan soal pengiriman atau fitur Lapaku? Hubungi kami di support@lapaku.id atau coba langsung gratis selama 14 hari.
Tim konten Lapaku menulis tips praktis untuk membantu merchant MSME Indonesia berjualan lebih efisien.
